sdfgs gjsdfighusdfoighusdfoighusdfoi ghsdfio gsdfoigsdifhugsdifhugldakjvfbljsdkfhbgdajfhbgaksdvfjgd bvgkjdfhv bglskjdfgbsldfbglsdfjgksfdgh fsdgh fsgh fsgh fgh fgh fdgh fdghhfdg hfdgh fdg h dfgh fdgh fdgh
Jacques membawaku ke sebuah bangunan yang katanya dulu adalah istana kerajaan. Ia membuka gulungan; sebuah peta dunia. “Bumi Kedua yang berukuran empat kali lebih luas dari duniamu ini merupakan manifestasi dari seluruh cerita yang pernah ditulis dan dibukukan oleh manusia di tempat asalmu Bumi Pertama. Buku-buku kalian adalah ‘jejak penulis’ yang menjadi pilar pembangun Librarium Aeon, tempat suci di Bumi Kedua.” Jacques kemudian menunjuk bentangan benua-benua di peta. “Kita sekarang ada di Solaris, benua dengan kondisi paling mirip dengan dunia asalmu. Lunaris adalah benua di mana hidup segala macam bentuk imajinasi dan fantasi. Stelantis, dijuluki sebagai ‘Tanah para Pemuisi’, surganya para pecinta kata. Lalu keempat adalah ‘Panggung Drama’ Atlantis, yang setengah bagiannya berada di bawah permukaan laut. Kalau kau tinggal setahun-dua tahun di sini, kau bisa menjelajahi semuanya.” “To the point saja!” pintaku. Aku sudah curiga bakal ada yang tidak beres setelah ini. 😌 “Hehe, baiklah. Nah, baru-baru ini ada kekuatan misterius berupa bayangan hitam yang bisa berubah wujud menjadi apapun—kami menyebutnya sebagai Dark Matter, sedang berusaha menghancurkan Librarium Aeon, mengubah ribuan ‘jejak penulis’ menjadi entitas-entitas mengerikan dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi Kedua. Karena itulah, kami memanggil para penulis untuk membantu mencari ‘jejak’ mereka yang hilang, menyegelnya, dan mengembalikannya lagi menjadi pilar Librarium Aeon. Kedua alisku bertaut. “Maksudmu, bukuku yang berjudul Endomi Airlines … berubah jadi semacam monster, begitu?” “Yup. Bukan cuma bukumu saja, sih,” balas Jacques. “Kau mungkin mengenal beberapa penulis yang sudah tiba lebih dulu di sini, karena sejatinya hanya penulis aslinya lah yang bisa mengenali dan mencari ‘jejak’ mereka sendiri meskipun telah berubah wujud menjadi entitas mengerikan. Aku bersama beberapa ilmuwan lainnya belum bisa memastikan dari mana asal Dark Matter ini, tapi … dugaan kuat kami ia berasal dari tulisan-tulisan yang diciptakan oleh AI di duniamu.” Aku terkejut. “Artificial Intelligence?”
Jacques membawaku ke sebuah bangunan yang katanya dulu adalah istana kerajaan. Ia membuka gulungan; sebuah peta dunia. “Bumi Kedua yang berukuran empat kali lebih luas dari duniamu ini merupakan manifestasi dari seluruh cerita yang pernah ditulis dan dibukukan oleh manusia di tempat asalmu Bumi Pertama. Buku-buku kalian adalah ‘jejak penulis’ yang menjadi pilar pembangun Librarium Aeon, tempat suci di Bumi Kedua.” Jacques kemudian menunjuk bentangan benua-benua di peta. “Kita sekarang ada di Solaris, benua dengan kondisi paling mirip dengan dunia asalmu. Lunaris adalah benua di mana hidup segala macam bentuk imajinasi dan fantasi. Stelantis, dijuluki sebagai ‘Tanah para Pemuisi’, surganya para pecinta kata. Lalu keempat adalah ‘Panggung Drama’ Atlantis, yang setengah bagiannya berada di bawah permukaan laut. Kalau kau tinggal setahun-dua tahun di sini, kau bisa menjelajahi semuanya.” “To the point saja!” pintaku. Aku sudah curiga bakal ada yang tidak beres setelah ini. 😌 “Hehe, baiklah. Nah, baru-baru ini ada kekuatan misterius berupa bayangan hitam yang bisa berubah wujud menjadi apapun—kami menyebutnya sebagai Dark Matter, sedang berusaha menghancurkan Librarium Aeon, mengubah ribuan ‘jejak penulis’ menjadi entitas-entitas mengerikan dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi Kedua. Karena itulah, kami memanggil para penulis untuk membantu mencari ‘jejak’ mereka yang hilang, menyegelnya, dan mengembalikannya lagi menjadi pilar Librarium Aeon. Kedua alisku bertaut. “Maksudmu, bukuku yang berjudul Endomi Airlines … berubah jadi semacam monster, begitu?” “Yup. Bukan cuma bukumu saja, sih,” balas Jacques. “Kau mungkin mengenal beberapa penulis yang sudah tiba lebih dulu di sini, karena sejatinya hanya penulis aslinya lah yang bisa mengenali dan mencari ‘jejak’ mereka sendiri meskipun telah berubah wujud menjadi entitas mengerikan. Aku bersama beberapa ilmuwan lainnya belum bisa memastikan dari mana asal Dark Matter ini, tapi … dugaan kuat kami ia berasal dari tulisan-tulisan yang diciptakan oleh AI di duniamu.” Aku terkejut. “Artificial Intelligence?” Jacques mengangguk. “Disamping itu, jika kau mengetahui apa yang terjadi di Bumi Kedua ini apa yang disebut sebagai ‘probabilitas cerita yang tidak tertulis’ … kau pasti akan lebih berhati-hati lagi ke depannya dalam menulis, karena tokoh antagonis yang di akhir cerita tidak diceritakan secara jelas nasibnya oleh seorang penulis … bisa jadi masih hidup di Bumi Kedua dan membuat kekacauan sebagaimana ia digambarkan di dalam sebuah cerita.” Aku merinding mendengar penjelasan pria itu. Mataku secara sadar bergerak perlahan ke arah pinggang. “J-jadi inikah sebabnya aku dibekali … pedang?” Jacques menggigit apelnya dan malah tertawa. “Buat jaga-jaga. Pistol juga ada kalau kau mau.” Berengsek sekali dia! Kukira pedang di pinggang ini cuma supaya aku terlihat gagah. “Pantas saja dari tadi aku berpikir kenapa penampilanku mirip seorang ksatria! Bagaimana kalau aku mati?!” tanyaku ketar-ketir. “Demi apapun, jangan sampai mati, ya, Baron Endomirebus. Demi keselamatanmu, kau akan bertualang bersama ksatria lainnya. Bukan aku, ya, karena aku cuma ilmuwan—” “Dan kau memintaku mengayunkan pedang?! Aku ini penulis, bukan ksatria, tahu!” rutukku seraya mengacak-acak rambut. “Aku berharap jadi vampir saja yang tidak bisa mati!” “Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu kepada seseorang kalau begitu.”