Sebuah petualangan epik yang akan membawa Anda ke dunia yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya. Lima sahabat menemukan sebuah peta kuno yang mengarah ke harta karun tersembunyi di pulau misterius. Namun, perjalanan mereka tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai rintangan dan bahaya menghadang, termasuk kelompok perompak yang juga mengincar harta tersebut. Di tengah petualangan, mereka menemukan rahasia besar tentang asal-usul pulau dan hubungannya dengan salah satu dari mereka. Akankah mereka berhasil menemukan harta dan kembali dengan selamat? Sebuah petualangan epik yang akan membawa Anda ke dunia yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya. Lima sahabat menemukan sebuah peta kuno yang mengarah ke harta karun tersembunyi di pulau misterius. Namun, perjalanan mereka tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai rintangan dan bahaya menghadang, termasuk kelompok perompak yang juga mengincar harta tersebut. Di tengah petualangan, mereka menemukan rahasia besar tentang asal-usul pulau dan hubungannya dengan salah satu dari mereka. Akankah mereka berhasil menemukan harta dan kembali dengan selamat? Sebuah petualangan epik yang akan membawa Anda ke dunia yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya. Lima sahabat menemukan sebuah peta kuno yang mengarah ke harta karun tersembunyi di pulau misterius. Namun, perjalanan mereka tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai rintangan dan bahaya menghadang, termasuk kelompok perompak yang juga mengincar harta tersebut. Di tengah petualangan, mereka menemukan rahasia besar tentang asal-usul pulau dan hubungannya dengan salah satu dari mereka. Akankah mereka berhasil menemukan harta dan kembali dengan selamat?
er tygert yrt yhdfgh dfgfdgh fdgh dfgh dfgh dfgh fdgh dfgh dfgh dfgh dfg hfdgh dfgh dfgh fdgh fdgh dfghfdgh dfgh fdgh fdghdfgh dfgh dfgh df Dropdown: Option
dsgf sfdg fgh fdgh dgh gfh jgh jfhgjh fhg
“Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu kepada seseorang kalau begitu.”
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir sehari semalam, akhirnya kami sampai juga di sebuah tempat sunyi. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah lampu gantung yang sudah tidak lagi bersinar dengar normal. “Kau membawa siapa … Jacques?” Sebuah suara wanita muncul tanpa kutahu dari mana arah datangnya. Embusan hawa dingin di belakang tengkuk berhasil membuat bulu kudukku meremang, bersamaan saat aku menoleh ke arah samping, wanita itu sudah berjarak sejengkal dari tempatku berdiri. “Ini … siapa?” “Dia calon childe ….” balas Jacques. Wanita vampir itu menatap tajam mataku. Rasa-rasanya aku mengenal wanita ini. “Kau Victoria di cerita Twilight, bukan?” tanyaku sok akrab. “Tenang, jangan grogi. Jangan takut. Aku cuma menggigitmu, bukan mau membunuhmu,” ucapnya dengan desahan. “Kenapa juga kau harus mendesah seperti itu, sih?” “Bodoh. Ini yang namanya siring. Aku sedang melakukan apa yang namanya ritual mengubah manusia menjadi vampir. Kau akan menjadi childe atau vampir baru.” . Aku merinding mendengar penjelasan pria itu. Mataku secara sadar bergerak perlahan ke arah pinggang. “J-jadi inikah sebabnya aku dibekali … pedang?” . Jacques menggigit apelnya dan malah tertawa. “Buat jaga-jaga. Pistol juga ada kalau kau mau.” . Berengsek sekali dia! Kukira pedang di pinggang ini cuma supaya aku terlihat gagah. “Pantas saja dari tadi aku berpikir kenapa penampilanku mirip seorang ksatria! Bagaimana kalau aku mati?!” tanyaku ketar-ketir. . “Demi apapun, jangan sampai mati, ya, Baron Endomirebus. Demi keselamatanmu, kau akan bertualang bersama ksatria lainnya. Bukan aku, ya, karena aku cuma ilmuwan—” . “Dan kau memintaku mengayunkan pedang?! Aku ini penulis, bukan ksatria, tahu!” rutukku seraya mengacak-acak rambut. “Aku berharap jadi vampir saja yang tidak bisa mati!” . “Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu kepada seseorang kalau begitu.”
dsfg dfg fsd hgfdgh fdgh ghfg jgfh jgfh jgfh jfgh jhdgf jfgh jfgh jfgh jfhgj hgf jfghjgfhjfghjfghjfghjfg hjgfh jgfhj fgh
Jacques membawaku ke sebuah bangunan yang katanya dulu adalah istana kerajaan. Ia membuka gulungan; sebuah peta dunia. “Bumi Kedua yang berukuran empat kali lebih luas dari duniamu ini merupakan manifestasi dari seluruh cerita yang pernah ditulis dan dibukukan oleh manusia di tempat asalmu Bumi Pertama. Buku-buku kalian adalah ‘jejak penulis’ yang menjadi pilar pembangun Librarium Aeon, tempat suci di Bumi Kedua.” Jacques kemudian menunjuk bentangan benua-benua di peta. “Kita sekarang ada di Solaris, benua dengan kondisi paling mirip dengan dunia asalmu. Lunaris adalah benua di mana hidup segala macam bentuk imajinasi dan fantasi. Stelantis, dijuluki sebagai ‘Tanah para Pemuisi’, surganya para pecinta kata. Lalu keempat adalah ‘Panggung Drama’ Atlantis, yang setengah bagiannya berada di bawah permukaan laut. Kalau kau tinggal setahun-dua tahun di sini, kau bisa menjelajahi semuanya.” “To the point saja!” pintaku. Aku sudah curiga bakal ada yang tidak beres setelah ini. 😌 “Hehe, baiklah. Nah, baru-baru ini ada kekuatan misterius berupa bayangan hitam yang bisa berubah wujud menjadi apapun—kami menyebutnya sebagai Dark Matter, sedang berusaha menghancurkan Librarium Aeon, mengubah ribuan ‘jejak penulis’ menjadi entitas-entitas mengerikan dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi Kedua. Karena itulah, kami memanggil para penulis untuk membantu mencari ‘jejak’ mereka yang hilang, menyegelnya, dan mengembalikannya lagi menjadi pilar Librarium Aeon. Kedua alisku bertaut. “Maksudmu, bukuku yang berjudul Endomi Airlines … berubah jadi semacam monster, begitu?” “Yup. Bukan cuma bukumu saja, sih,” balas Jacques. “Kau mungkin mengenal beberapa penulis yang sudah tiba lebih dulu di sini, karena sejatinya hanya penulis aslinya lah yang bisa mengenali dan mencari ‘jejak’ mereka sendiri meskipun telah berubah wujud menjadi entitas mengerikan. Aku bersama beberapa ilmuwan lainnya belum bisa memastikan dari mana asal Dark Matter ini, tapi … dugaan kuat kami ia berasal dari tulisan-tulisan yang diciptakan oleh AI di duniamu.” Aku terkejut. “Artificial Intelligence?”
Jacques membawaku ke sebuah bangunan yang katanya dulu adalah istana kerajaan. Ia membuka gulungan; sebuah peta dunia. “Bumi Kedua yang berukuran empat kali lebih luas dari duniamu ini merupakan manifestasi dari seluruh cerita yang pernah ditulis dan dibukukan oleh manusia di tempat asalmu Bumi Pertama. Buku-buku kalian adalah ‘jejak penulis’ yang menjadi pilar pembangun Librarium Aeon, tempat suci di Bumi Kedua.” Jacques kemudian menunjuk bentangan benua-benua di peta. “Kita sekarang ada di Solaris, benua dengan kondisi paling mirip dengan dunia asalmu. Lunaris adalah benua di mana hidup segala macam bentuk imajinasi dan fantasi. Stelantis, dijuluki sebagai ‘Tanah para Pemuisi’, surganya para pecinta kata. Lalu keempat adalah ‘Panggung Drama’ Atlantis, yang setengah bagiannya berada di bawah permukaan laut. Kalau kau tinggal setahun-dua tahun di sini, kau bisa menjelajahi semuanya.” “To the point saja!” pintaku. Aku sudah curiga bakal ada yang tidak beres setelah ini. 😌 “Hehe, baiklah. Nah, baru-baru ini ada kekuatan misterius berupa bayangan hitam yang bisa berubah wujud menjadi apapun—kami menyebutnya sebagai Dark Matter, sedang berusaha menghancurkan Librarium Aeon, mengubah ribuan ‘jejak penulis’ menjadi entitas-entitas mengerikan dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi Kedua. Karena itulah, kami memanggil para penulis untuk membantu mencari ‘jejak’ mereka yang hilang, menyegelnya, dan mengembalikannya lagi menjadi pilar Librarium Aeon. Kedua alisku bertaut. “Maksudmu, bukuku yang berjudul Endomi Airlines … berubah jadi semacam monster, begitu?” “Yup. Bukan cuma bukumu saja, sih,” balas Jacques. “Kau mungkin mengenal beberapa penulis yang sudah tiba lebih dulu di sini, karena sejatinya hanya penulis aslinya lah yang bisa mengenali dan mencari ‘jejak’ mereka sendiri meskipun telah berubah wujud menjadi entitas mengerikan. Aku bersama beberapa ilmuwan lainnya belum bisa memastikan dari mana asal Dark Matter ini, tapi … dugaan kuat kami ia berasal dari tulisan-tulisan yang diciptakan oleh AI di duniamu.” Aku terkejut. “Artificial Intelligence?” Jacques mengangguk. “Disamping itu, jika kau mengetahui apa yang terjadi di Bumi Kedua ini apa yang disebut sebagai ‘probabilitas cerita yang tidak tertulis’ … kau pasti akan lebih berhati-hati lagi ke depannya dalam menulis, karena tokoh antagonis yang di akhir cerita tidak diceritakan secara jelas nasibnya oleh seorang penulis … bisa jadi masih hidup di Bumi Kedua dan membuat kekacauan sebagaimana ia digambarkan di dalam sebuah cerita.” Aku merinding mendengar penjelasan pria itu. Mataku secara sadar bergerak perlahan ke arah pinggang. “J-jadi inikah sebabnya aku dibekali … pedang?” Jacques menggigit apelnya dan malah tertawa. “Buat jaga-jaga. Pistol juga ada kalau kau mau.” Berengsek sekali dia! Kukira pedang di pinggang ini cuma supaya aku terlihat gagah. “Pantas saja dari tadi aku berpikir kenapa penampilanku mirip seorang ksatria! Bagaimana kalau aku mati?!” tanyaku ketar-ketir. “Demi apapun, jangan sampai mati, ya, Baron Endomirebus. Demi keselamatanmu, kau akan bertualang bersama ksatria lainnya. Bukan aku, ya, karena aku cuma ilmuwan—” “Dan kau memintaku mengayunkan pedang?! Aku ini penulis, bukan ksatria, tahu!” rutukku seraya mengacak-acak rambut. “Aku berharap jadi vampir saja yang tidak bisa mati!” “Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu kepada seseorang kalau begitu.”